Stasiun Angke selalu menawan

“Semua sudah tertulis di lauhul mahfuzh, 50 ribu tahun sebelum manusia diciptakan”

Takdir merupakan perkara yg rumit. Butuh banyak waktu untuk memahaminya dan banyak juga yg tersesat ketika mencoba memahaminya. Qodariyah dan jabariyah memahami takdir dari sisi sisi yg paling ekstrim, kedua aliran ini pun dinyatakan sesat dalam upaya memahami takdir.

Cukup sudah ulasan teori takdir tak sanggup pikir ini menuangkannya dalam bentuk tulisan, lebih baik merenungi suatu ikhtiar dalam menempuh perjalanan agar lebih cepat namun apa daya ternyata lebih buruk dari skenario awal, begini ceritanya….

Normalnya, perjalanan pulang by KRL dari priok skenarionya sebagai berikut  : jam 17.10 dari stasiun tanjung priok, jam 17.53 dari stasiun kampung bandan, jam 18.20 dari stasiun tanah abang, sampai stasiun pondok ranji jam 18.40. (Sebagai catatan, frekwensi KRL di stasiun kampung bandan adalah tiap 30 menit).

Kedatangan di stasiun pondok ranji di jam 18.40 dinilai riskan karena mepet dengan adzan isya jam 18.56, jadi perlu strategi lain untuk menyiasati agar kedatangan bisa lebih cepat. Caranya dengan langsung menuju stasiun angke, karena frekwensi KRLnya tiap 20 menit harapannya keberangkatan dari stasiun tanah abang bisa jam 18.00 sehingga sampai di stasiun pondok ranji bisa jam 18.20…. Sekali lagi ini harapan.

Eksekusi siasat 

Jam 17.10 by gojek dari priok langsung ke stasiun angke berharap bisa ikut KRL yg jam 17.46 atau jam 18.00 atau pun paling apes jam 18.10.

Perjalanan ke angke terbagi 3 tahap, tahap pertama priok ke kampung bandan, tahap kedua kampung bandan ke stasiun kota dan tahap ketiga stasiun kota  ke stasiun angke.

Tahap pertama boleh dibilang lancar, dengan durasi perjalanan cukup 15 menit saja, alias jam 17.25 sudah sampai di daerah dekat stasiun kampung bandan. Ada juga sih kepikiran untuk turun di stasiun ini, tapi kalopun turun hasilnya akan sama saja dengan skenario normal, akhirnya perjalanan by gojek tetap dilanjutkan menuju tahap kedua.

Tahap kedua pun perjalanannya sukses, hanya butuh 10 menit saja, namun kali ini tidak ada pikiran untuk turun di stasiun kota, karena memang tidak ada KRL yg sesuai dg tujuan.

Tahap ketiga adalah tahap penentuan, disinilah takdir memainkan perannya. Normalnya, tahap ini melewati jalur depan stasiun kota, jembatan asemka, simpang lima dan masuk jalan tubagus angke, namun driver gojek mengatakan bahwa biasanya kalo sore simpang lima pasti macet, jadi dia mengusulkan untuk lewat bandengan selatan saja. Percaya dengan pernyataan sang  driver kami pun putar arah via bandengan selatan. 

Perjalanan sepertinya akan sesuai dengan perkiraan, bahkan kami sudah berada di sisi lain dari rel kereta dekat stasiun angke, ternyata kami harus bertemu dengan jalan yg ditutup dekat jalan tubagus angke, ya …. kami harus mencari jalan lain disaat posisi kami hampir mendekati stasiun angke, saat itu waktu menunjukan jam 17.40….

Perjalanan berubah menjadi horor karena kami harus melewati gang sempit yg sisi kiri kanannya dipakai sebagai tempat parkiran motor, butuh kesabaran dalam melewatinya, bahkan ada juga beberapa warga yg duduk-duduk di depan rumahnya yg tidak memiliki teras, alias mereka nongkrong di badan jalan gang yg memang sudah sempit… Ah indah sekali suasananya…., klimaksnya kami harus menghadapi kenyataan bahwa pilihan belok kanan di suatu persimpangan merupakan pilihan yg salah karena di ujung gang ternyata juga ditutup karena ada  pasar malam…. Inilah takdir itu.

Singkat cerita, perjalanan kami harus berakhir di jalan tubagus angke raya, jalan ke arah stasiun angke sangat padat, tidak bisa dilalui kendaraan, termasuk motor, jalan kaki menjadi pilihan terbaik demi penghematan waktu dan jam menunjukkan pukul 17.53.

Sebelum pukul 18.00 sampailah di tujuan, stasiun angke, tak lama KRL tujuan bogor pun tiba, penumpang berebut naik, namun terdengar pengumuman bahwa kereta akan diberangkatkan pada pukul 18.11, butuh waktu 10 menit perjalanan ke stasiun tanah abang, berarti waktu kedatangan di tanah abang adalah pukul 18.21. Dari fakta ini aja, sudah lewat 1 menit dari rencana normal, ah sempat terbersit pikiran, sepertinya usaha yang sudah dilakukan sia sia karena hasilnya ternyata justru malah lebih lambat.

KRL akhirnya diberangkatkan pada pukul 18.15 dan sampai di stasiun tanah abang pukul 18.31. Rencana pun harus berubah, tak cukup waktu jika harus sholat maghrib di pondok ranji, akhirnya maghrib dulu di stasiun tanah abang. 

Entah KRL jam berapa yg mengantarkan ke stasiun pondok ranji, yang pasti adzan isya sudah lama berlalu, tiba di rumahpun sudah pukul 19.20, jauh melewati harapan pukul 18.30 atau bahkan 18.50 seperti rencana normal…

Andai….. Ah sudahlah, bukankah takdir sudah tertulis di lauhul mahfudz? Bahwa apapun usaha kita akhirnya apa yg sudah tertulislah yg akan terjadi, kita hanya berharap agar harapan dan usaha kita bersesuaian dengan takdir.

Hikmahnya, jadi hapal jalan sekitaran angke, ada beberapa warung empek2 di sana, tapi di pemukiman orang cina, halal ga yaa?

Advertisements

1 thought on “Stasiun Angke selalu menawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s