Membuktikan ASUMSI

Dalam beberapa kasus, asumsi efektif dipakai sebagai dasar untuk menjawab atau justru bisa dipakai juga sebagai jawaban namun bila itu bisa berdampak buruk maka sebaiknya asumsi tersebut diuji dulu untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagai fakta.

Beberapa jembatan penyeberangan di sepanjang jalan MT Haryono atau Gatot Subroto berfungsi juga sebagai akses ke halte Transjakarta. Normalnya, jembatan penyeberangan menghubungkan kedua sisi jalan, ketika dijadikan sebagai akses ke halte transjakarta yg ada di median jalan maka ditengah jembatan dibuatlah sodetan untuk pintu masuk atau keluar halte tersebut, kebayang kan maksudnya?

Nah, disinilah asumsi bermain bahwa jembatan penyeberangan menghubungkan kedua sisi jalan, jika jembatan penyeberangan dijadikan akses ke halte transjakarta maka selain menghubungkan kedua sisi jalan ditengahnya juga akan ada sodetan untuk akses keluar-masuk halte. Sampai disini ASUMSI dianggap benar.

Suatu saat ketika turun di halte transjakarta stasiun cawang dari arah UKI, ASUMSI tersebut digunakan. Begitu turun di halte maka dicarilah akses ke arah seberang jalan dimana stasiun cawang berada…., namun ternyata halte TJ stasiun cawang tidak berfungsi sebagai jembatan penyeberangan…. halte tersebut stand alone ALIAS jembatan yg ada hanya berfungsi sebagai akses ke halte saja, TIDAK ADA akses ke sebrang sana, alhasil berubahlah rencana A menjadi rencana B bahkan eksekusi akhir malah jadi C, …. begini ceritanya.

Perjalanan rawamangun bintaro dengan menggunakan transportasi publik bisa di MIX antara TJ dan KRL. Pilihannya naik TJ di rawamangun lalu turun di halte Jatinegara, kemudian jalan dikit ke stasiun Jatinegara lanjut naek KRL atau naik TJ di rawamangun lalu transit di halte UKI kemudian turun di halte stasiun Cawang lanjut naek KRL.

Bosan dengan rutinitas naik KRL Jatinegara maka diputuskanlah untuk mencoba KRL dari stasiun Cawang. Bermodal ASUMSI bahwa halte stasiun cawang berfungsi juga sebagai jembatan penyeberangan maka dipakailah rencana A untuk mengeksekusi rencana perjalanan pulang. Karena asumsinya ternyata salah maka terjadilah kesalahan pengambilan keputusan karena FAKTA nya halte tersebut tidak punya akses ke seberang, akibatnya bengong agak lama, sambil mikir gimana  caranya supaya bisa nyampe ke seberang…. Sempat muncul ide untuk jalan saja  lewat underpass yg macet, debu dan semrawut, untungnya ide ini hilang dilawan rasa malas jalan kaki. Akhirnya hampir putus asa diputuskan untuk lanjut naik TJ sampe halte yg dekat dg Stasiun Palmerah.

Sebelumnya sempat melihat bahwa di dekat Stasiun Palmerah itu ada TJ jurusan Bundaran Senayan dan Tosari. Maka dipakelah rencana B yaitu  naik dulu TJ jurusan Tosari, di sana baru naik yg ke arah Stasiun Palmerah dan singkat cerita sampailah di halte Tosari. 

Lama ditunggu tak satupun jurusan Stasiun Palmerah muncul. Akhirnya setelah melihat papan rute, diputuskan untuk memakai rencana C yaitu naik TJ Bunderan Senayan (BS) ke arah stasiun Palmerah. Maka naiklah TJ yg rutenya meliwati halte BS dari Tosari, yaitu TJ jurusan Kota ke Blok M. 

Di perjalanan baru sadar bahwa perjalanan ini kayak gasing, semanggi tosari, balik lagi tosari ke BS. Begitu naik TJ BS ke stasiun palmerah tepok jidat lagi, karena ternyata rutenya balik lagi ke arah Semanggi, untung akhirnya belok ke arah Slipi, namun di halte JCC harus tepok jidat lagi 3x karena sebenernya dari Halte UKI ada juga TJ yg langsung ke JCC, ga perlu mampir di Tosari atau BS, bisa langsung nunggu TJ jurusan Stasiun Palmerah di sini…. Owalaah…

Singkat cerita, perjalanan rawamangun ke palmerah memakan waktu 2 jam, padahal itungan awal jika lewat Jatinegara saja 1 jam mungkin sudah cukup, tapi kita lihat sisi baiknya saja, kita sebutkan satu satu : jadi tau kalo halte stasiun cawang tdk bisa diakses dari arah UKI harus lewatkan dulu halte berikutnya baru balik arah. Kedua, TJ stasiun Palmerah berhenti di halte JCC dan TJ jurusan Grogol dan banyak lagi, semua berhenti juga di halte ini. Ketiga mushala stasiun Palmerah nyaman tapi kalo maghrib kayaknya umpel umpelan karena tidak terlalu besar ukurannya. Keempat, dengan modal 3500 perak, kita bisa muter muter jakarta asal engga keluar halte….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s