Kembali ke Pantura

Pantura merupakan salah satu jalur yg memiliki makna historis, mungkin memori pindah dari sukabumi ke semarang dan semarang sukabumi yg rutenya lewat pantura waktu kecil dahulu tersimpan rapi di kepala ini.

Liburan jogja I dan jogja II tak juga cukup untuk memuaskan kerinduan pada pantura, walaupun engga ngapa-ngapain juga, cuma nyetir dan melihat jalanan lurus diantara tegalan atau persawahan yg luas membentang. Sesekali ketemu pemandangan sisi pantai di sebelah utara.

Kemacetan cikampek di awal perjalanan tak lantas menyiutkan hasrat, nerimo saja, karena memang tidak ada pilihan. Ada sih, lewat kalimalang, tapi sangat tidak familiar, maklum tukang nyasar udah pake 2 gps aja pernah nyasar juga… Ampun deh si aa inih….

Selepas percabangan tol cipularang mulailah si innova melaju menunjukkan kelasnya, bensin 2000 cc. Stabil di 120 km per jam dan mulai berisik ketika digeber di atas 130. Tak sampai jam 13 kami sudah sampe di Tegal, sengaja keluar tol brebes timur, dulu breksit yg kesohor itu kayaknya. Perut keroncongan tak bisa dialihkan, menunya restoran ayam bakar ala bandung, ga jodoh sama sate tegal yg konon kesohor itu….

Brebes timur, tegal, pemalang serasa tak berbatas, rumah dan bangunan saling menyambung dan hanya gapura selamat datang selamat jalanlah yg mengingatkan bahwa daerah tersebut sudah berganti wilayah kota. Selebihnya, sama.

Menjelang ashar sampailah di kota batik Pekalongan. Dari pengalaman jika kami masuk hotel pasti yg ada pengen tiduran. Alhasil ketiduran beneran sampe besok, ngga asyik dong liburannya. Dengan semangat 45 kami teruskan perjalanan dg keliling kota. Modal Gmap aja, dengan doa jangan sampai sinyal gpsnya ilang, ntah hapenya atau simcard nya, udah sering kejadian, pas butuh pas pula sinyal gps raib.

Pekalongan kota yg tidak terlalu luas, jalur utama pantura berada di sisi selatan, jika tidak menyengaja maka penampakan kota hanya begitu begitu saja. Pemerintah kota sepertinya sudah menyiapkan spot selfi di kilometer nol pekalongan, simpang entah simpang berapa ditengahnya ada pelataran dengan huruf besar PEKALONGAN, cocok buat mejeng penggiat instagram. Kami cuma lewat dan lanjut ke pantai.

Perjalanan ke pantai melewati ex KPPBC pekalongan, kantor megah dan luas, sayang, kebijakan reorganisasi DJBC harus merelakan kantor ini di degradasi dan hanya menjadi kantor bantu di bawah KPPBC Tegal.

Sampai di pantai cuaca agak gerimis dan ombak menggelora, air laut kecoklatan dan sangat tidak bersahabat. Kami seperti diingatkan bahwa semalam sebelumnya terjadi tsunami di selat sunda, laut memang sedang tidak bersahabat. Kami masuk ke wahana akuarium besar, lebih aman, melihat beberapa ikan air laut dan air tawar, cocoknya anak sekolah sih yg masuk, bagi saya ikan ikan itu lebih cocok kalo ditaro di tempat panggangan ikan….

Menjelang maghrib kami masuk hotel syariah namanya NAMIRA, berlokasi di jalan Dr. Cipto, tengah kota 1.3 km dari alun alun pekalongan. Nuansa syariahnya cukup kental, ada mushola dan saluran tv kabelnya difilter ketat. Ini yg diprotes si nadhif… Ngga ada FOX ngga ada HBO, sudahlah de…..

Makan malam gugling dulu, nyari top kuliner pekalongan, yg masih buka sate kalibul yg ternyata setelah di TKP artinya kambing lima bulan…. Kesannya maksa, karena biasanya denger balibul atau batibul, tapi kan suka suka yg punya resto mau ngasih nama apa…

Jadwal sholat di Pekalongan relatif sama dengan Jakarta, lebih cepat 5 -10 menit aja kayaknya. Seperti biasa pake rukhshoh saja jamak qoshar…..

Sarapan hotel standar saja, nyobain garang asem pekalongan yg mirip mirip rawon dan satu kuliner khasnya, MEGONO, katanya cincang nangka dg bumbu yg kayaknya ada kencurnya, jadi mirip bumbu urap. Kalo penampakan megono sih mirip gudeg kering warna coklat muda… 

Pilihan pekalongan sebenernya karena kota itu adalah sentra produksi batik di jawa. Batik pekalongan sejajar dengan batik solo dari sisi nama, namun segmen pasarnya lebih ke menengah ke bawah. Wajar solo merupakan kota keraton tentu produk batiknya menyasar kaum ningrat sedangkan pekalongan dominan rakyat biasa.

Pedagang batik pekalongan berkumpul di Pasar Setono, ratusan kios menjadi satu, memudahkan pembeli, terutama turis untuk memilih mana yg suka, mana yg cocok. Kalo harga sih tergantung kualitas batiknya, ono rego ono rupo lah….

Selesai belanja perut lapar, ada tujuan kuliner yg ngehit di internet, tapi kalo malam dia tutup namanya SOP BUNTUT BU LEMAN, jam 11 kami sampai di situ. 2 porsi sop buntut dan seporsi iga bakar kami pesan. Seporsi sop Rp. 55K, iga bakar Rp. 60K cukup mahal untuk ukuran Pekalongan, namun porsinya jumbo, kalo di jakarta mungkin harganya bisa 2x lipet. Rasanya….. Mantap, pantesan banyak testimoni nya di gugel.

Oh ya, kabar bahwa pantura banjir duren sudah pula kami dengar, tapi lokasinya jauh di selatan, alhasil kami pasif aja di perjalanan pulang, kalo ada yg jual ya kami berhenti aja, mampir makan di tempat. Akhirnya spot tukang duren kami temukan di alun alun kota Pemalang. Kami mampir sebelum sholat zhuhur, tapi harganya mahal, sebutir Rp. 100K, walopun besar tapi tetep aja mahal…

Selepas Pemalang kami masuk Tegal, tetap di jalur pantura. Kami mencari telor asin khas brebes dan mulai banyak yg jual begitu memasuki tegal barat deket brebes harganya, sama aja dg jakarta… Hehehe

Akhirnya masuk sesi perjalanan pulang, via tol brebes timur jam 13 an sampe rumah jam 19, masih sempet sholat maghrib… Alhamdulillah

Advertisements

2 thoughts on “Kembali ke Pantura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s