Day#1

Start 92,3

Stop @20PM, 0400AM VCO, 0600AM VCO, 0900AM VCO, 1300PM AVOCADO SALTEDEGG#2 VCO

Advertisements

Tahun Baru Hijriyah

Tak ada suara gegap gempita, tak jua semburat cahaya kembang api di udara. Hari ini hari terakhir bulan Zulhijah, bulan ke-12 disisi Alloh SWT. Esok kita sudah masuk tahun baru hijriyah.

Piket di akhir tahun hijriyah, melipat malam menanti pagi, sampai tiba waktu menjumpai ular besi, yg berjalan meniti rel baja, sepanjang priok bintaro. Kelak saat ini akan dikenang dg indah.

Selamat tahun baru islam, 1440 Hijriyah

Sulawesi

Pulau besar di republik dengan bentuknya yang unik, mirip huruf “k”, identik dengan sultan legendaris Sultan Hasanuddin dari Makasar. Pikiran orang pun akan melayang ke salah satu suku dengan keunikan yang khas, Toraja. Identik dengan ritual jenasah yang bisa berjalan ke kuburnya sendiri. Tentunya dengan suatu pesta adat khusus ritual leluhur adat Toraja. Keindahan bunaken juga menambah ingatan orang akan pulau ini dan satu lagi, menado, tak usahlah kita bahas yg satu ini.

Akhir Juli, menumpang penerbangan batik air, mendaratlah untuk pertama kali di Sulawesi, tepatnya di kota Makasar, dahulu bernama Ujung Pandang atau lebih tepat pernah bernama Ujung Pandang karena sejak dahulu kala, Makasar sudah dipakai sebagai nama kerajaan di Sulawesi Selatan.

Kotanya mungkin mirip medan atau semarang, tidak sebesar Jakarta. Cukup nyaman dan hanya macet di ruas jalan tertentu di pusat kota dan itupun saat pagi dan sore hari. Ternyata di sana pun jumpa pulak dengan sobat sukabumi, ajo. Kebetulan dia sedang tugas di Makasar, sekalian reuni sekalian makan, sekalian ngopi ditemani pisang eppe…

Cerita Makasar tak lengkap kalo tak cerita kuliner, ditemani kawan kawan, haji keprek, bli haryawan dan bang stevy makanlah kami di daeng masa, makang ikang…

Sehari sebelumnya kawan malinus dan haji keprek ngajak makan pallubassa serigala, sayang ga sempet foto.

Kuliner lain yang belum sempat dicicip adalah coto makasar, sop sodara, sop konro dan masih banyak kayaknya…., biarlah mungkin di jakarta saja kita cari sisanya…

Perjalanan 4 hari 3 malam cukup berkesan. Hotel Ibis losari sangat pas lokasinya bagi penikmat kuliner. Berada di tepian pantai, cocok buat selfi dan jalan-jalan. Kuliner khas makasar berada dekat di sekitar lokasi, memang bukan yang top namun…. Rasanya tak beda jauh, kalo yg top enak sekali yg ini enak atau lebih enak karena…. Lebih murah pastinya

Masjid Kubah Emas

Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Dian al Mahri, namanya diambil dari nama pendiri masjid yg menurut wikipedia merupakan wanita pengusaha asal banten.

Banyak kisah masa lalu dian al mahri di internet tapi belum ada info yg resmi dikeluarkan oleh yang bersangkutan jadi anggap saja semua masih merupakan cerita dibalik kisah.

Masjid dibangun tahun 1999 ada juga yg mengatakan tahun 2001 dan selesai tahun 2006. Berdiri di lokasi yg memiliki total luas 70 hektar di daerah Meruyung Depok. Luas masjidnya sendiri 8.000 m² dan sanggup menampung sampai 15.000 jamaah sholat.

Saat ini Masjid Kubah Emas sudah menjadi tujuan wisata relijius tidak hanya bagi wisatawan lokal, interlokal bahkan internasional.

Tapi kami datang bukan sebagai wisatawan, kami diundang menghadiri akad nikah dan jadilah ini kunjungan pertama kali di Masjid yg merupakan salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara.

Bakwan Jagung Spesial

Apa yang spesial? Yaaa… karena bikinan sendiri dan resepnya pun ngarang sendiri maka sah sah saja disebut spesial hehehe

Dulu, bakwan ini andalan almarhum mamah. Masih segar dalam ingatan kami anak-anaknya, tiap buka puasa mamah masak bakwan jagung dan mie goreng, kombinasi maut buat buka puasa, dijamin langsung kenyang deh.

Kebiasaan bikin bakwan jagung juga turun ke ade perempuan di Sukabumi. Ketika kami berkunjung sering ia membuatkan bakwan jagung, mungkin sekedar mengingatkan bahwa dulu bakwan ini pernah menyatukan kami dalam kenyang….

Pertama kali bikin bakwan kalo ngga salah waktu kerja di Medan, baru-baru merit. Bermodal nekad nyari resep, tanya mamah via telpon (waktu itu mamah masih ada), jadilah bakwan jagung ala anwar, rasanya masih aneh dan digigit ada sedikit perlawanan alias keras. Kata adek saya itu karena kebanyakan tepung atau airnya kurang banyak…

Practice make perfect…. Akhirnya komposisi bahan bakwan jagung pun didapat. Tak perlu resep atau timbangan, cukup dilihat penampakan saja sudah langsung paham adonannya keras atau lembut. Begitu juga dengan bumbunya, seperti garam, merica, bawang putih dan royco. Semua sudah termemorais dalam otak awak ini…. *ehm

Sore ini sabtu 23 Juni 2018 bertepatan dengan hari libur, wiken, tersajilah sepiring bakwan jagung spesial ala gue. Seperti biasa penggemarnya masih si cantik, nenek dan anak-anak. Walaupun anak-anak biasanya ga begitu antusias, mungkin mereka punya standar rasa sendiri, maklum anak milenial…..

Mau tau resepnya? Nanti suatu saat dishare di sini….

Stasiun Beos (kota)

2 hari kerja pertama setelah lebaran bus jemputan belum aktif, KRL seperti biasa jadi andalan. Rute biasa sudah dijalani di hari pertama. Keisengan muncul di hari kedua, mumpung belum rame nyoba jalur lain. 

Biasanya dari Tanah Abang naek KRL Kampung Bandan lanjut KRL Priok tapi daripada kelamaan nunggu dari Tanah Abang naeklah KRL tujuan akhir Angke, maksudnya dari situ naek ojek ke Kota, baru lanjut ke Priok.

KRL Angke memang lebih banyak dari Kampung Bandan, 3 banding 1 dengan frekwensi nyaris tiap 10 menit. Alhasil ga pake nunggu lama udah nangkring aja di Stasiun Angke.

Stasiun Angke posisinya di tengah pasar, keluar stasiun disambut pasar tradisional, tapi kayaknya bentar lagi pasarnya bakal digusur, udah mulai beberapa lapak dibongkar. Kalo yang ngga pernah ke Angke bakalan ngga nemu dimana Stasiun Angke, bener bener ketutup sama pasar.

Order gojek ke stasiun kota, drivernya bilang tunggu dan beneran nunggunya agak lama, pake pesen pulak dia pake jaket merah dan motornya beda dengan aplikasi… Ga papa, saya bilang, anterin aja cepet ke beos biar ga ketinggalan kereta.

Gojekpun datang dan sepanjang jalan dia cerita banyak, semua diceritain. Dia ga sadar yg penumpang agak pekak pake helm pulak, walopun sebagian besar cerita dia terdengar tapi begitu dia minta pendapat agak tegagap juga, takut ngga nyambung jawabannya. Alhamdulillah jaraknya deket jadi ga pake lama denger cerita drivernya.

Stasiun Kota itu dulunya bernama Stasiun Beos, nama perusahaan keretanya kompeni, disingkat beos, panjangnya ngga tau deh. Di pelataran banyak banget penjual makanan. Bakso, soto, gorengan dan entah apalagi, ga begitu perhatiin, tapi begitu ngeliat arem-arem otomatis berhenti deh, beli 2 arem-arem dan 3 kroket, pas buat sarapan.

Sampai peron KRL tujuan Priok masih parkir, ga pake lama kereta pun jalan dan mampir di Kampung Bandan. Sejumlah penumpang naik, kalo ngga ke kota harusnya tadi ikut juga naik di sini. Selanjutnya sih biasa, sampe priok normal, sampe kantor normal.

Kapan kapan mampir lagi ke beos, masih banyak makanan yang bisa dicoba…