Bintaro dan Pancoran

Jam sibuk di pagi hari adalah waktu yg horor bagi laju lalu lintas jakarta dan sekitarnya, apalagi kalo harus melewati gatsu yg dilalui oleh mayoritas manusia komuter dari segala penjuru ibukota. Bintaro ke pancoran adalah pilihan yg berat. Tapi demi seminar tentang hukum dan asn, pilihan ini pun akhirnya diambil juga. TKP tujuan adalah Pusdiklat Keuangan Umum Kemenkeu di Pancoran.

Bagi pelaju yg biasa naek transportasi publik pilihannya cuma 2, muter via cawang atau motong di palmerah naek feeder transjakarta.

Kalo via cawang, dari bintaro turun di Stasiun Tanah Abang pindah ke peron 3 naek KRL jurusan bogor. Hampir tiap 10 menit KRLnya lewat, aman. Akan sedikit lama ketahan ketika akan masuk Stasiun Manggarai. Antri masuk jalut dan memberikan kesempatan kepada kereta premium bandara dan KA Jarak Jauh, KRL sebagai angkutan subsidi wajib ngalah, engga papa kok, paling 10 menit….

Turun di Stasiun Cawang kita bisa milih, mau naek ojek atau nyebrang di kolong jalan tol naek bus Transjakarta, baiknya sih naek ojek online, karena halte nya ngga ada yg pas, tetep harus jalan. Halte terdekat adalah di Halte Tugu Pancoran di perempatan patung pancoran. Ongkosnya kita hitung ya, KRL 3,5K plus ojek online yaaah 10K lah… dilempengin 15K sekali jalan, kalo naek Transjakarta yg 3,5K lebih murah sih, tapi plus jalan kaki ya…

Supaya cepet kita bisa motong di palmerah, rutenya dari situ kita naek feeder transjakarta turun di halte JCC, lanjut naek yg jurusan cawang apa aja karena kita akan turun di halte transjakarta tugu pancoran. Dari situ bisa jalan kaki atau naek ojek, tapi muter lho ya, hehehe.

Sebetulnya jalan enak juga, tapi pas waktu itu trotoar sedang direnov, jadi jalannya melipir jalan raya, agak riskan…. Tapi layak dicoba lah….

Naek mobil pribadi atau taxi? Hmmmm… Selain mahal dan macet ntar parkirnya susah pulak….. Ah lebih baik naek angkutan umum aja deh…. Satu lagi, pusdiklat keuangan umum ga punya kuliner andalah atau kurang expore aja kali ya?

Ntar kita cari tau deh…

Advertisements

Membuktikan ASUMSI

Dalam beberapa kasus, asumsi efektif dipakai sebagai dasar untuk menjawab atau justru bisa dipakai juga sebagai jawaban namun bila itu bisa berdampak buruk maka sebaiknya asumsi tersebut diuji dulu untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagai fakta.

Beberapa jembatan penyeberangan di sepanjang jalan MT Haryono atau Gatot Subroto berfungsi juga sebagai akses ke halte Transjakarta. Normalnya, jembatan penyeberangan menghubungkan kedua sisi jalan, ketika dijadikan sebagai akses ke halte transjakarta yg ada di median jalan maka ditengah jembatan dibuatlah sodetan untuk pintu masuk atau keluar halte tersebut, kebayang kan maksudnya?

Nah, disinilah asumsi bermain bahwa jembatan penyeberangan menghubungkan kedua sisi jalan, jika jembatan penyeberangan dijadikan akses ke halte transjakarta maka selain menghubungkan kedua sisi jalan ditengahnya juga akan ada sodetan untuk akses keluar-masuk halte. Sampai disini ASUMSI dianggap benar.

Suatu saat ketika turun di halte transjakarta stasiun cawang dari arah UKI, ASUMSI tersebut digunakan. Begitu turun di halte maka dicarilah akses ke arah seberang jalan dimana stasiun cawang berada…., namun ternyata halte TJ stasiun cawang tidak berfungsi sebagai jembatan penyeberangan…. halte tersebut stand alone ALIAS jembatan yg ada hanya berfungsi sebagai akses ke halte saja, TIDAK ADA akses ke sebrang sana, alhasil berubahlah rencana A menjadi rencana B bahkan eksekusi akhir malah jadi C, …. begini ceritanya.

Perjalanan rawamangun bintaro dengan menggunakan transportasi publik bisa di MIX antara TJ dan KRL. Pilihannya naik TJ di rawamangun lalu turun di halte Jatinegara, kemudian jalan dikit ke stasiun Jatinegara lanjut naek KRL atau naik TJ di rawamangun lalu transit di halte UKI kemudian turun di halte stasiun Cawang lanjut naek KRL.

Bosan dengan rutinitas naik KRL Jatinegara maka diputuskanlah untuk mencoba KRL dari stasiun Cawang. Bermodal ASUMSI bahwa halte stasiun cawang berfungsi juga sebagai jembatan penyeberangan maka dipakailah rencana A untuk mengeksekusi rencana perjalanan pulang. Karena asumsinya ternyata salah maka terjadilah kesalahan pengambilan keputusan karena FAKTA nya halte tersebut tidak punya akses ke seberang, akibatnya bengong agak lama, sambil mikir gimana  caranya supaya bisa nyampe ke seberang…. Sempat muncul ide untuk jalan saja  lewat underpass yg macet, debu dan semrawut, untungnya ide ini hilang dilawan rasa malas jalan kaki. Akhirnya hampir putus asa diputuskan untuk lanjut naik TJ sampe halte yg dekat dg Stasiun Palmerah.

Sebelumnya sempat melihat bahwa di dekat Stasiun Palmerah itu ada TJ jurusan Bundaran Senayan dan Tosari. Maka dipakelah rencana B yaitu  naik dulu TJ jurusan Tosari, di sana baru naik yg ke arah Stasiun Palmerah dan singkat cerita sampailah di halte Tosari. 

Lama ditunggu tak satupun jurusan Stasiun Palmerah muncul. Akhirnya setelah melihat papan rute, diputuskan untuk memakai rencana C yaitu naik TJ Bunderan Senayan (BS) ke arah stasiun Palmerah. Maka naiklah TJ yg rutenya meliwati halte BS dari Tosari, yaitu TJ jurusan Kota ke Blok M. 

Di perjalanan baru sadar bahwa perjalanan ini kayak gasing, semanggi tosari, balik lagi tosari ke BS. Begitu naik TJ BS ke stasiun palmerah tepok jidat lagi, karena ternyata rutenya balik lagi ke arah Semanggi, untung akhirnya belok ke arah Slipi, namun di halte JCC harus tepok jidat lagi 3x karena sebenernya dari Halte UKI ada juga TJ yg langsung ke JCC, ga perlu mampir di Tosari atau BS, bisa langsung nunggu TJ jurusan Stasiun Palmerah di sini…. Owalaah…

Singkat cerita, perjalanan rawamangun ke palmerah memakan waktu 2 jam, padahal itungan awal jika lewat Jatinegara saja 1 jam mungkin sudah cukup, tapi kita lihat sisi baiknya saja, kita sebutkan satu satu : jadi tau kalo halte stasiun cawang tdk bisa diakses dari arah UKI harus lewatkan dulu halte berikutnya baru balik arah. Kedua, TJ stasiun Palmerah berhenti di halte JCC dan TJ jurusan Grogol dan banyak lagi, semua berhenti juga di halte ini. Ketiga mushala stasiun Palmerah nyaman tapi kalo maghrib kayaknya umpel umpelan karena tidak terlalu besar ukurannya. Keempat, dengan modal 3500 perak, kita bisa muter muter jakarta asal engga keluar halte….

Stasiun Angke selalu menawan

“Semua sudah tertulis di lauhul mahfuzh, 50 ribu tahun sebelum manusia diciptakan”

Takdir merupakan perkara yg rumit. Butuh banyak waktu untuk memahaminya dan banyak juga yg tersesat ketika mencoba memahaminya. Qodariyah dan jabariyah memahami takdir dari sisi sisi yg paling ekstrim, kedua aliran ini pun dinyatakan sesat dalam upaya memahami takdir.

Cukup sudah ulasan teori takdir tak sanggup pikir ini menuangkannya dalam bentuk tulisan, lebih baik merenungi suatu ikhtiar dalam menempuh perjalanan agar lebih cepat namun apa daya ternyata lebih buruk dari skenario awal, begini ceritanya….

Normalnya, perjalanan pulang by KRL dari priok skenarionya sebagai berikut  : jam 17.10 dari stasiun tanjung priok, jam 17.53 dari stasiun kampung bandan, jam 18.20 dari stasiun tanah abang, sampai stasiun pondok ranji jam 18.40. (Sebagai catatan, frekwensi KRL di stasiun kampung bandan adalah tiap 30 menit).

Kedatangan di stasiun pondok ranji di jam 18.40 dinilai riskan karena mepet dengan adzan isya jam 18.56, jadi perlu strategi lain untuk menyiasati agar kedatangan bisa lebih cepat. Caranya dengan langsung menuju stasiun angke, karena frekwensi KRLnya tiap 20 menit harapannya keberangkatan dari stasiun tanah abang bisa jam 18.00 sehingga sampai di stasiun pondok ranji bisa jam 18.20…. Sekali lagi ini harapan.

Eksekusi siasat 

Jam 17.10 by gojek dari priok langsung ke stasiun angke berharap bisa ikut KRL yg jam 17.46 atau jam 18.00 atau pun paling apes jam 18.10.

Perjalanan ke angke terbagi 3 tahap, tahap pertama priok ke kampung bandan, tahap kedua kampung bandan ke stasiun kota dan tahap ketiga stasiun kota  ke stasiun angke.

Tahap pertama boleh dibilang lancar, dengan durasi perjalanan cukup 15 menit saja, alias jam 17.25 sudah sampai di daerah dekat stasiun kampung bandan. Ada juga sih kepikiran untuk turun di stasiun ini, tapi kalopun turun hasilnya akan sama saja dengan skenario normal, akhirnya perjalanan by gojek tetap dilanjutkan menuju tahap kedua.

Tahap kedua pun perjalanannya sukses, hanya butuh 10 menit saja, namun kali ini tidak ada pikiran untuk turun di stasiun kota, karena memang tidak ada KRL yg sesuai dg tujuan.

Tahap ketiga adalah tahap penentuan, disinilah takdir memainkan perannya. Normalnya, tahap ini melewati jalur depan stasiun kota, jembatan asemka, simpang lima dan masuk jalan tubagus angke, namun driver gojek mengatakan bahwa biasanya kalo sore simpang lima pasti macet, jadi dia mengusulkan untuk lewat bandengan selatan saja. Percaya dengan pernyataan sang  driver kami pun putar arah via bandengan selatan. 

Perjalanan sepertinya akan sesuai dengan perkiraan, bahkan kami sudah berada di sisi lain dari rel kereta dekat stasiun angke, ternyata kami harus bertemu dengan jalan yg ditutup dekat jalan tubagus angke, ya …. kami harus mencari jalan lain disaat posisi kami hampir mendekati stasiun angke, saat itu waktu menunjukan jam 17.40….

Perjalanan berubah menjadi horor karena kami harus melewati gang sempit yg sisi kiri kanannya dipakai sebagai tempat parkiran motor, butuh kesabaran dalam melewatinya, bahkan ada juga beberapa warga yg duduk-duduk di depan rumahnya yg tidak memiliki teras, alias mereka nongkrong di badan jalan gang yg memang sudah sempit… Ah indah sekali suasananya…., klimaksnya kami harus menghadapi kenyataan bahwa pilihan belok kanan di suatu persimpangan merupakan pilihan yg salah karena di ujung gang ternyata juga ditutup karena ada  pasar malam…. Inilah takdir itu.

Singkat cerita, perjalanan kami harus berakhir di jalan tubagus angke raya, jalan ke arah stasiun angke sangat padat, tidak bisa dilalui kendaraan, termasuk motor, jalan kaki menjadi pilihan terbaik demi penghematan waktu dan jam menunjukkan pukul 17.53.

Sebelum pukul 18.00 sampailah di tujuan, stasiun angke, tak lama KRL tujuan bogor pun tiba, penumpang berebut naik, namun terdengar pengumuman bahwa kereta akan diberangkatkan pada pukul 18.11, butuh waktu 10 menit perjalanan ke stasiun tanah abang, berarti waktu kedatangan di tanah abang adalah pukul 18.21. Dari fakta ini aja, sudah lewat 1 menit dari rencana normal, ah sempat terbersit pikiran, sepertinya usaha yang sudah dilakukan sia sia karena hasilnya ternyata justru malah lebih lambat.

KRL akhirnya diberangkatkan pada pukul 18.15 dan sampai di stasiun tanah abang pukul 18.31. Rencana pun harus berubah, tak cukup waktu jika harus sholat maghrib di pondok ranji, akhirnya maghrib dulu di stasiun tanah abang. 

Entah KRL jam berapa yg mengantarkan ke stasiun pondok ranji, yang pasti adzan isya sudah lama berlalu, tiba di rumahpun sudah pukul 19.20, jauh melewati harapan pukul 18.30 atau bahkan 18.50 seperti rencana normal…

Andai….. Ah sudahlah, bukankah takdir sudah tertulis di lauhul mahfudz? Bahwa apapun usaha kita akhirnya apa yg sudah tertulislah yg akan terjadi, kita hanya berharap agar harapan dan usaha kita bersesuaian dengan takdir.

Hikmahnya, jadi hapal jalan sekitaran angke, ada beberapa warung empek2 di sana, tapi di pemukiman orang cina, halal ga yaa?

Day#4

Menu selasa

Pagi mendoan#2+bakwan_jagung, siang maksi_E4_capcay, teriyaki, udang_tepung, kerupuk_bawang, malam ayam_ayam_tongkol

Menu Rabu

Pagi kaldu, siang ayam_geprek, telor rebus, malam tongkol_sambal, rawon, telor rebus, pisgor

Timbangan 91,4KGM

Tahun Baru Hijriyah

Tak ada suara gegap gempita, tak jua semburat cahaya kembang api di udara. Hari ini hari terakhir bulan Zulhijah, bulan ke-12 disisi Alloh SWT. Esok kita sudah masuk tahun baru hijriyah.

Piket di akhir tahun hijriyah, melipat malam menanti pagi, sampai tiba waktu menjumpai ular besi, yg berjalan meniti rel baja, sepanjang priok bintaro. Kelak saat ini akan dikenang dg indah.

Selamat tahun baru islam, 1440 Hijriyah

Sulawesi

Pulau besar di republik dengan bentuknya yang unik, mirip huruf “k”, identik dengan sultan legendaris Sultan Hasanuddin dari Makasar. Pikiran orang pun akan melayang ke salah satu suku dengan keunikan yang khas, Toraja. Identik dengan ritual jenasah yang bisa berjalan ke kuburnya sendiri. Tentunya dengan suatu pesta adat khusus ritual leluhur adat Toraja. Keindahan bunaken juga menambah ingatan orang akan pulau ini dan satu lagi, menado, tak usahlah kita bahas yg satu ini.

Akhir Juli, menumpang penerbangan batik air, mendaratlah untuk pertama kali di Sulawesi, tepatnya di kota Makasar, dahulu bernama Ujung Pandang atau lebih tepat pernah bernama Ujung Pandang karena sejak dahulu kala, Makasar sudah dipakai sebagai nama kerajaan di Sulawesi Selatan.

Kotanya mungkin mirip medan atau semarang, tidak sebesar Jakarta. Cukup nyaman dan hanya macet di ruas jalan tertentu di pusat kota dan itupun saat pagi dan sore hari. Ternyata di sana pun jumpa pulak dengan sobat sukabumi, ajo. Kebetulan dia sedang tugas di Makasar, sekalian reuni sekalian makan, sekalian ngopi ditemani pisang eppe…

Cerita Makasar tak lengkap kalo tak cerita kuliner, ditemani kawan kawan, haji keprek, bli haryawan dan bang stevy makanlah kami di daeng masa, makang ikang…

Sehari sebelumnya kawan malinus dan haji keprek ngajak makan pallubassa serigala, sayang ga sempet foto.

Kuliner lain yang belum sempat dicicip adalah coto makasar, sop sodara, sop konro dan masih banyak kayaknya…., biarlah mungkin di jakarta saja kita cari sisanya…

Perjalanan 4 hari 3 malam cukup berkesan. Hotel Ibis losari sangat pas lokasinya bagi penikmat kuliner. Berada di tepian pantai, cocok buat selfi dan jalan-jalan. Kuliner khas makasar berada dekat di sekitar lokasi, memang bukan yang top namun…. Rasanya tak beda jauh, kalo yg top enak sekali yg ini enak atau lebih enak karena…. Lebih murah pastinya